THK di Kamboja (1) Saksi Kurban di Mekong River PHNOM PEN – Helat Tebar Hewan Kurban (THK) DD, tahun ini penuh kesan. Untuk kali pertama, THK mendistribusikan kurban ke Kamboja dan Filipina baca selengkapnya THK di Kamboja (2) Kampong Cham Menjejakkan kaki, kali pertama di Kampong Cham, setelah menempuh perjalanan enam jam dari Phnom Penh melalui jalan tanah, rasanya merinding. Kisah heroik komunitas muslim saat melawan Khemer Merah di baca selengkapnya
THK di Kamboja (2) Kampong Cham
Menjejakkan kaki, kali pertama di Kampong Cham, setelah menempuh perjalanan enam jam dari Phnom Penh melalui jalan tanah, rasanya merinding. Kisah heroik komunitas muslim saat melawan Khemer Merah di wilayah ini aromanya masih terasa. Meski tak lagi terdengar deru mesiu dan bau anyir darah, tapi Kampong Cham mewakili wilayah Kamboja lainnya. Miskin dan terbelakang. Anak-anak leluasa tak mengenakan baju, hanya celana pendek.
Di atas atap rumah panggung, selalu tertera tahun dibangunnya. Menandakan, tahun itulah awal mereka bangkit dari kehancuran perang saudara. Sarana transportasi banyak mengandalkan tenaga kuda dan sapi untuk pergi berladang. Anak-anak, dapat mengayuh sepeda untuk menuju sekolah yang jaraknya puluhan kilo meter, melalui jalan tanah yang berdebu di kala kemarau dan berlumpur tatkala hujan. Tak ada listrik di kampong Cham, tetapi sinyal ponsel amat kuat.
Di rumah Ustad Yusuf Ishak, salah seorang tokoh muslim di desa Pas II, Kampong Cham, Dompet Dhuafa Republika (DD) singgah. Tepat pukul 10 malam. DD disambut ratusan warga dengan antusias. Mereka mengenali sebagai orang muslim dari Malaysia. Lantas, Yusuf Ishak mulai bertutur bagaimana tingginya empati warga Malaysia pada muslim Kamboja.
Dengan bahasa Melayu yang cukup sulit, ia menaburkan segala puja puji pada masyarakat Malaysia. Tatkala Idul Kurban maupun Ramadhan, muslim Malaysia banyak yang bersilaturahim mengunjungi mereka. Meski bentuk bantuannya tak besar, tapi kunjungan mereka dirasakan muslim Kamboja sebagai amunisi yang memperkuat akidah beragama mereka.
Di tengah perbincangan, dengan rasa tak enak, Datok Mustofa, seorang teman perjalanan dari Malaysia menjelaskan pada Yusuf Ishak dan warganya.
“Mohon maaf. Kami silaturahim ke sini mewakili masyarakat Indonesia yang menitipkan 43 ekor lembu melalui Dompet Dhuafa untuk muslim Kemboja. Kami mewakili Indonesia”, terang Dato Mustofa.
“Oh, Indonesia? Ahlan wa sahlan Indonesia”, sahut Yusuf terhenyak. Karena, sejak ia kecil, ini pertama kali ada orang Indonesia mengunjungi kampungnya.
Lepas malam itu, kurban dari Indonesia menjadi buah bibir di komunitas muslim Kampong Cham, Phnom Penh, Takeo, dan Kratie. Di empat provinsi ini, Tebar Hewan Kurban (THK) DD menyalurkan amanah 300 orang pekurban dari Indonesia.
Tak pelak, penghargaan pada Indonesia ditunjukkan Wakil Menteri Agama Kerajaan Kamboja, Zakaryya Adam dan perwakilan Parlemen Kerajaan Kamboja, Abdul Kadir B Osman. Di tempat terpisah, sebelum DD pulang ke Indonesia keduanya berharap kehadiran muslim Indonesia ke Kamboja bukan yang pertama dan terakhir.
Dijelaskan Zakaryya Adam, sejak Kamboja perlahan damai, muslim Kamboja membutuhkan banyak simpati dunia luar. Ia berharap Indonesia menjadi pelopor, merecovery kehidupan muslim Kamboja yang hari ini mengalami kemiskinan hingga titik nadir. Bahkan, kepercayaannya pada Indonesia, dibuktikan dengan mengirim salah seorang putranya untuk belajar agama di Indonesia.
“Terima kaseh untuk Indonesia. Mewakili muslim Cambodia, kami tunggu awak datang lagi”, salam Zakaryya Adam melepas DD pulang ke Indonesia. Mungkin, dengan silaturahim jejak-jejak hitam Pol Pot yang menngoyak peradaban dan kehidupan muslim Kamboja bisa disembuhkan.
Diposting oleh sunaryo adhiatmok